Dialog Bersama Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal


  Rabu, 22 Januari 2020 Kegiatan DITJENPDT

Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi menyelenggarakan Dialog bersama dengan judul “prospek dan Upaya Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Dalam Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Digital Untuk Pembangunan Daerah Tertinggal Demi Terwujudnya Sustainable Development Goals”. Acara ini dilaksanakan pada Rabu, 22 Januari 2020 di Kantor Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Jakarta.

Acara ini diadakan dalam rangka kunjungan mahasiswa “Study Exercise” yang bertujuan memperkenalkan mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang dengan program-program kerja di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Mahasiswa dapat belajar secara praktis bagaimana kinerja pemerintah dalam mengembangkan desa, daerah tertinggal, maupun kawasan transmigrasi.

Dialog Bersama tersebut dibuka oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal, Ir.Razali, M. Si dan Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si selaku perwakilan dari Universitas Muhammadiyah Malang. Acara ini yang juga dihadiri oleh Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal, Samsul Widodo, para Kepala Bagian di lingkungan Ditjen PDT, Dosen Universitas Muhammadyah Malang, Ali Roziqin, M.PA , mahasiswa/I Universitas Muhammadiyah Malang dan pegawai di lingkungan Ditjen PDT.

Dalam sambutannya, Razali menyampaikan harapan agar kunjungan ini mampu memberikan pengetahuan yang cukup untuk dapat membantu proses belajar para mahasiswa. Segala informasi yang diperoleh mahasiswa terkait pembangunan desa, daerah tertinggal dan transmigrasi juga bisa dikembangkan menjadi sebuah kajian menarik oleh mahasiswa.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal, Samsul Widodo memberikan kuliah umum kepada mahasiswa terkait program-program inovasi yang bisa dikembangkan di daerah tertinggal. Samsul Widodo memberikan penjelasan terkait Mahasiswa pemerintahan yang harus mampu memecahkan masalah bagaimana kita dapat membangun daerah tertinggal menjadi lebih baik lagi melalui digitalisasi.

Dalam paparannya, Samsul Widodo menyampaikan bahwa pemanfaatan potensi ekonomi digital untuk pemasaran produk unggulan di daerah tertinggal bisa dilakukan untuk membantu petani agar dapat menjual produknya secara langsung kepada konsumen tanpa melalui perantara.

“Teknologi saat ini sudah lebih modern, petani sudah tidak perlu lagi repot untuk tahu kapan panen, kapan harus mengaliri air, dan lainnya. Sekarang semua sudah bisa dilakukan dengan aplikasi, jadi anak muda pun bisa tertarik untuk bisa jadi petani.”, imbuhnya saat menjelaskan konsep Smart Farming pada para mahasiswa.

Samsul Widodo juga mengungkapkan bahwa dengan kecanggihan teknologi di era Revolusi Industri 4.0 ini, kekuatan media sosial dapat menjadi alat untuk turut mengembangkan desa. Oleh karena itu, Samsul Widodo mengajak para mahasiswa untuk turut membantu mensejahterakan masyarakat desa maupun masyarakat di pinggiran.

Selain mendapatkan kuliah umum dari Samsul Widodo, mahasiswa juga berdiskusi bersama Razali terkait program pembangunan yang selama ini dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal. Antusiasme peserta tampak tinggi pada sesi diskusi ini, para mahasiswa terlibat aktif bertanya terkait studi kasus pembanguan desa yang mereka ketahui ataupun menanyakan terkait strategi-strategi pemerintah dalam mengembangkan desa, daerah tertinggal, dan kawasan transmigrasi.

“Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal selama ini sudah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk bisa membantu mengembangkan daerah tertinggal. Dengan banyaknya mitra yang dijalin, diharapkan produk unggulan dari daerah tertinggal bisa dipasarkan ke konsumen yang lebih luas dengan harga yang lebih bersaing.”, ungkapnya saat menjelaskan bagaimana Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal selama ini berkontribusi dalam permasalahan distribusi produk.