Provinsi Sulawesi Barat

Provinsi Sulawesi Barat

     Provinsi Sulawesi Barat yang beribukota di Mamuju terletak antara 00121 - 30361 Lintang Selatan dan 118043'15" Bujur Timur, yang berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah di sebelah utara dan selat Makassar sebelah barat. Batas sebelah selatan dan timur adalah Provinsi Sulawesi Selatan.

     Jumlah sungai yang mengaliri wilayah Sulawesi Barat tercatat sekitar 8 aliran sungai, dengan jumlah aliran terbesar di kabupaten Polewali Mandar, yakni 5 aliran sungai. Sungai terpanjang tercatat ada dua sungai yakni Sungai Saddang yang mengalir meliputi Kabupaten Tator, Enrekang, Pinrang dan Polewali Mandar serta Sungai Karama di Kabupaten Mamuju. Panjang kedua sungai tersebut masing masing 150 km.

     Di Sulawesi Barat terdapat 2 gunung yang mempunyai ketinggian di atas 2.500 meter di atas permukaan laut. Gunung tersebut ini berdiri tegak di Kabupaten Mamuju. Luas wilayah Provinsi Sulawesi Barat tercatat 16.937,16 kilometer persegi yang meliputi 5 kabupaten. Kabupaten Mamuju merupakan Kabupaten terluas dengan luas 8.014,06 kilometer persegi atau luas kabupaten tersebut merupakan 47,32 persen dari seluruh wilayah Sulawesi Barat.

 

Sejarah

     Sejarah Terbentuknya Sulawesi Barat Bertolak dari semangat "Allamungan Batu di Luyo" yang mengikat Mandar dalam perserikatan "Pitu Ba'bana Binanga dan Pitu Ulunna Salu" dalam sebuah muktamar yang melahirkan "Sipamandar" (saling memperkuat) untuk bekerja sama dalam membangun Mandar.

     Semangat "Sipamandar" inilah, sehingga sekitar tahun 1960 oleh tokoh masyarakat Manda yang ada di Makassar yaitu antara lain : H. A. Depu, Abd. Rahman Tamma, Kapten Amir, H. A. Malik, Baharuddin Lopa, SH. dan Abd. Rauf mencetuskan ide pendirian Provinsi Mandar bertempat di rumah Kapten Amir, dan setelah Sulawesi Tenggara memisahkan diri dari Provinsi Induk yang saat itu bernama Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara (Sulselra).

     Ide pembentukan Provinsi Mandar diubah menjadi rencana pembentukan Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) dan ini tercetus di rumah H. A. Depu di Jl. Sawerigading No. 2 Makassar, kemudian sekitar tahun 1961 dideklarasikan di Bioskop Istana (Plaza) Jl. Sultan Hasanuddin Makassar dan perjuangan tetap dilanjutkan sampai pada masa Orde Baru perjuangan tetap berjalan, namun selalu menemui jalan buntu yang akhirnya perjuangan ini seakan dipeti-es-kan sampai pada masa Reformasi barulah perjuangan ini kembali diupayakan oleh tokoh masyarakat Mandar sebagai pelanjut perjuangan generasi lalu yang diantara pencetus awal hanya H. A. Malik yang masih hidup, namun juga telah wafat dalam perjalanan perjuangan dan pada tahun 2000 yang lalu dideklarasikan di Taman Makam Pahlawan Korban 40.000 jiwa di Galung Lombok, kemudian dilanjutkan dengan Kongres I Sulawesi Barat yang pelaksanaannya diadakan di Majene dengan mendapat persetujuan dan dukungan dari Bupati dan Ketua DPRD Kab. Mamuju, Kab. Majene dan Kab. Polman.

     Tuntutan memisahkan diri dari Sulawesi Selatan sebagaimana di atas sudah dimulai masyarakat di wilayah Eks Afdeling Mandar sejak sebelum Indonesia merdeka. Setelah era reformasi dan disahkannya Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999, kemudian menggelorakan kembali perjuangan masyarakat di tiga kabupaten, yakni Polewali Mamasa, Majene, dan Mamuju untuk menjadi provinsi.

     Sejak tahun 2005, tiga kabupaten (Majene, Mamuju dan Polewali Mamasa) resmi terpisah dari Provinsi Sulawesi Selatan menjadi Provinsi Sulawesi Barat, dengan ibukota Provinsi di kota Mamuju. Selanjutnya, Kabupaten Polewali Mamasa juga dimekarkan menjadi dua kabupaten terpisah (Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Mamasa).

     Untuk jangka waktu cukup lama, daerah ini sempat menjadi salah satu daerah yang paling terisolir atau ‘yang terlupakan’ di Sulawesi Selatan. Ada beberapa faktor penyebabnya, antara lain, yang terpenting yaitu jaraknya yang cukup jauh dari ibukota provinsi (Makassar); kondisi geografisnya yang bergunung gunung dengan sarana prasarana jalan yang buruk; mayoritas penduduknya (etnis Mandar dan beberapa kelompok sub etnik kecil lainnya) yang lebih egaliter, sehingga sering berbeda sikap dengan kelompok etnis mayoritas dan dominan (Bugis dan Makassar) yang lebih hierarkis (atau bahkan feodal) pada awal tahun 1960an.

     Sekelompok intelektual muda Mandar pimpinan almarhum Baharuddin Lopa (Menteri Kehakiman dan Jaksa Agung pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, 1999 – 2000, dan sempat menjadi ‘aikon nasional’ gerakan anti korupsi karena kejujurannya yang sangat terkenal) melayangkan ‘Risalah Demokrasi’ menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap beberapa kebijakan politik Jakarta dan Makassar; serta fakta sejarah daerah ini sempat menjadi pangkalan utama ‘tentara pembelot’ (Batalion 310 pimpinan Kolonel Andi Selle), pada tahun 1950-60an, yang kecewa terhadap beberapa kebijakan pemerintah dan kemudian melakukan perlawanan bersenjata terhadap Tentara Nasional Indonesia (TNI).

     Selain sebagai daerah lintas gunung dan hutan untuk memperoleh pasokan senjata selundupan melalui Selat Makassar oleh gerilyawan Darul Islam (DI) pimpinan Kahar Muzakkar yang berbasis utama di Kabupaten Luwu dan Kabupaten Enrekang di sebelah timurnya. Pembentukan daerah kabupaten baru di wilayah Sulawesi Barat masih dalam proses dan dalam prosesnya masih sering diiringi oleh permasalahan permasalahan yang merupakan efek penyatuan pendapat yang belum memiliki titik temu.

     Sulawesi Barat atau disingkat SULBAR merupakan pemekaran dari Provinsi Sulawesi Selatan yang merupakan propinsi ke – 33 dan diresmikan sejak 5 Oktober 2004 berdasarkan Undang Undang Nomor 26 Tahun 2004, dengan ibukota provinsi adalah Mamuju – Kabupaten Mamuju.

 

Demografi

     Penduduk Sulawesi Barat berdasarkan hasil survei Sosial dan Ekonomi Nasional (SUSENAS) Tahun 2006 berjumlah 992.656 jiwa yang tersebar di 5 kabupaten, dengan jumlah penduduk terbesar yakni 356.391 jiwa mendiami Kabupaten Polewali Mandar. Secara keseluruhan jumlah penduduk yang berjenis kelamin laki-laki lebih banyak dari penduduk yang berjenis kelamin perempuan, hal ini tercermin dari angka rasio jenis kelamin yang lebih besar dari jumlah penduduk perempuan Angkatan kerja, Penduduk Usia Kerja (PUK) didefenisikan sebagai penduduk yang berumur 10 tahun ke atas.

     Penduduk usia kerja terdiri dari Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan kerja adalah penduduk yang bekerja atau yang sedang mencari pekerjaan, sedangkan bukan angkatan kerja adalah mereka yang bersekolah, mengurus rumah tangga atau melakukan kegiatan lainnya.

     Penduduk usia kerja di daerah Sulawesi Barat pada tahun 2006 berjumlah 751.180 jiwa. Dari seluruh penduduk usia kerja yang masuk menjadi angkatan kerja berjumlah 444.324 jiwa atau lebih dari 50 persen dari seluruh Penduduk Usia Kerja. Dari seluruh angkatan kerja yang berjumlah 444.324 jiwa tercatat bahwa 53.215 orang dalam status mencari pekerjaan. dari angka tersebut dapat dihitung tingkat pengangguran terbuka di Sulawesi Barat pada tahun 2006, yakni sebesar 11,98 persen. Angka ini merupakan rasio antara pencari pekerjaan dan jumlah angkatan kerja. Dilihat dari segi lapangan usaha, sebagian besar penduduk Sulawesi Barat bekerja pada sektor pertanian yang berjumlah 276.299 orang atau 70,64 persen dari jumlah penduduk yang bekerja. Sektor lainnya yang juga menyerap tenaga kerja cukup besar adalah sektor perdagangan dan jasa-jasa.

 

Topograpi, Jenis Tanah dan Iklim

     Keadaan Topografi Wilayah Provinsi Sulawesi Barat terdiri dari dataran rendah dan daratan tinggi. Luas wilayah ±16.787 km2, panjang garis pantai ±750,72 km dengan luas kewenangan laut ±5.580,35 km, kultur yang Agraris, dan iklim tropis type B. Daerah bergelombang, berbukit sampai bergunung dengan kemiringan agak curam dan sangat curam, masing-masing meliputi; Bagian Timur Kabupaten Mamuju,

     Bagian Utara Kabupaten Polewali Mandar, Kabupaten Majene dan Mamasa. Sedangkan jenis tanah di Sulawesi Barat berdasarkan laporan survey Lembagan Penelitian Tanah Bogor terdiri dari :

·         Tanah Latosol terdapat pada daerah Kabupaten Majene, Mamuju dan Mamuju Utara.

·         Tanah Alluvial dan Glay, terdapat pada daerah Polewali Mandar.

·         Tahan Podsolik, terdapat pada sebagian besar Kabupaten Mamuju, Polewali Mandar dan Mamasa.

     Keadaan iklim dengan memperbandingkan bulan kering dan bulan basah, Provinsi Sulawesi Barat mempunyai 3 (Tiga) tipe iklim yaitu : Type A adalah daerah yang paling sedikit bulan keringnya (1½ bulan) meliputi Kabupaten Mamuju Utara, Mamuju, Polewali Mandar, Majene dan Mamasa. Type B dengan bulan kering (1½ s/d 3 bulan) terdiri dari Kabupaten Majene dan Polewali Mandar. Type C dengan bulan kering (3 s/d 4 ½ bulan) sebagaian Kabupaten Majene dan Polewali Mandar.

 

Potensi Pengembangan Lahan Pertanian

     Pembangunan pertanian di Sulawesi Barat sangat berpeluang dan memiliki potensi Sumber Daya Alam yang sangat besar. Tanaman Pangan, Sulawesi Barat adalah merupakan daerah penghasil tanaman pangan yang cukup besar di Kawasan Timur Indonesia. Selain Padi sebagai komoditas tanaman pangan andalan, tanaman pangan lainnya yang dihasilkan Sulawesi Barat adalaj Jagung, Ubi kayu, ubi jaloar dan kacang-kacangan. Produksi Padi Sulawesi Barat tahun 2006 sebesar 301.616 ton yang dipanen dari areal seluas 64.462 ha atau rata-rata 4,68 ton per hektar.

     Sebagian besar produksi padi di Sulawesi Barat dihasilkan oleh jenis padi sawah. jenis padi ini menyumbang 96,03 persen dari seluruh produksi padi atau sebesar 289.632 ton. Sedangkan sisanya dihasilkan oleh padi ladang. Produksi Jagung Sulawesi Barat pada tahun 2006 sebesar 17.351 ton dengan luas panen 4.985 ha atau menghasilkan rata-rata 3,48 ton/ha. Produksi Ubi Jalar, ubi kayu.Tanaman Perkebunan, Hasil tanaman perkebunan yang cukup dominan di SUlawesi Barat pada tahun 2006 adalah tanaman Kelapa Sawit, Kakao dan Kelapa Dalam yang masing-masing berproduksi sebesar 261.004 ton, 102.976 ton dan 52.289 ton. sebagian besar hasil perkebunan tersebut dihasilkan oleh perkebunan besar swasta dan dapat dikatakan peran perkebunan rakyat relatif lebih kecil.

 

Potensi Sumber Daya Alam Subsektor Peternakan

     Pembangunan peternakan terdiri dari kegiatan budidaya ternak, pengembangan ternak, pengolahan pasca panen dan pemasaran. Khusus kegiatan budidaya ternak secara keseluruhan mempunyai potensi yang cukup besar, misalnya tersedianya lahan pangan, hijauan makanan ternak yang masih cukup luas, kondisi iklim yang cukup mendukung dan lain lain. Dengan tingkat penerapan yang relatif rendah sudah sangat memberikan peluang untuk pengembangannya.

Potensi peternakan seperti ternak sapi, kerbau, kuda, kambing, babi dan unggas mempunyai keunggulan yang komperatif. Potensi pasar untuk komoditi peternakan cukup besar, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam upaya peningkatan gizi masyarakat maupun untuk eksport. Bertambahnya penduduk dan

meningkatnya pendapatan serta kesejahteraan masyarakat akan membuka peluang pasar terhadap komoditi peternakan yang semakin besar.

     Pembangunan peternakan di Provinsi Sulawesi Barat pada dasarnya merupakan pembangunan berkelanjutan yang tak terpisahkan dari Pembangunan Pertanian sebagai Program Nasional. Pelaksanaan pembangunan peternakan tersebut mengacu pada program yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi berbasis kerakyatan yang terus dibangun dan dikembangkan.

 

Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Barat

No.

Kabupaten/Kota

Kota

Kecamatan

Desa

1.

Kabupaten Majene

Majene

8

62

2.

Kabupaten Mamasa

Mamasa

17

168

3.

Kabupaten Mamuju

Mamuju

11

89

4.

Kabupaten Mamuju Tengah

Tobadak

5

54

5.

Kabupaten Mamuju Utara

Pasangkayu

12

59

6.

Kabupaten Polewali Mandar

Plewali

16

144

 


Profil Daerah Tertinggal Di Provinsi Provinsi Sulawesi Barat

Opini

  • Pentingnya Dukungan SDM di Kawasan Ekonomi Khusus

Sistem Informasi

  • LPSE
  • Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum