Provinsi Sulawesi Selatan

Provinsi Sulawesi Selatan

     Provinsi Sulawesi Selatan termasuk salah satu dermaga timur Indonesia, setelah Jawa Timur. Provinsi ini tumbuh paling cepat diantara provinsi yang ada di Sulawesi Selatan. Ibukotannya adalah Makasar, dahulu Ujungpandang.

     Provinsi Sulawesi Selatan terletak di 0°12' - 8° Lintang Selatan dan 116°48' - 122°36' Bujur Timur. Luas wilayahnya 45.764,53 km⊃2;. Provinsi ini berbatasan dengan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat di utara, Teluk Bone dan Sulawesi Tenggara di timur, Selat Makassar di barat dan Laut Flores di selatan.

     Sampai dengan Mei 2010, jumlah penduduk di Sulawesi Selatan terdaftar sebanyak 8.032.551 jiwa dengan pembagian 3.921.543 orang laki-laki dan 4.111.008 orang perempuan.

 

Sejarah

     Provinsi Sulawesi Selatan, Sekitar 30.000 tahun silam pulau ini telah dihuni oleh manusia. Penemuan tertua ditemukan di gua-gua dekat bukit kapur dekat Maros, sekitar 30 km sebelah timur laut dan Makassar sebagai ibukota Propinsi Sulawesi Selatan. Kemungkinan lapisan budaya yang tua berupa alat batu Peeble dan flake telah dikumpulkan dari teras sungai di lembah Walanae, diantara Soppeng dan Sengkang, termasuk tulang-tulang babi raksasa dan gajah-gajah yang telah punah.

     Selama masa keemasan perdagangan rempah-rempah, diabad ke-15 sampai ke-19, Sulawesi Selatan berperan sebagai pintu Gerbang ke kepulauan Maluku, tanah penghasil rempah. Kerajaan Gowa dan Bone yang perkasa memainkan peranan penting didalam sejarah Kawasan Timur Indonesia dimasa Ialu. Pada sekitar abad ke-14 di Sulawesi Selatan terdapat sejumlah kerajaan kecil, dua kerajaan yang menonjol ketika itu adalah Kerajaan Gowa yang berada di sekitar Makassar dan Kerajaan Bugis yang berada di  Bone. Pada tahun 1530, Kerajaan Gowa mulai mengembangkan diri, dan pada pertengahan abad ke-16 Gowa menjadi pusat perdagangan terpenting di wilayah timur Indonesia. Pada tahun 1605, Raja Gowa memeluk Agama Islam serta menjadikan Gowa sebagai Kerajaan Islam, dan antara tahun 1608 dan 1611, Kerajaan Gowa menyerang dan menaklukkan Kerajaan Bone sehingga Islam dapat tersebar ke seluruh wilayah Makassar dan Bugis.

     Perusahaan dagang Belanda atau yang lebih dikenal dengan nama VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) yang datang ke wilayah ini pada abad ke-15 melihat Kerajaan Gowa sebagai hambatan terhadap keinginan VOC untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di daerah ini. VOC kemudian bersekutu dengan seorang pangeran Bugis bernama Arung Palakka yang hidup dalam pengasingan setelah jatuhnya Bugis di bawah kekuasaan Gowa. Belanda kemudian mensponsori Palakka kembali ke Bone, sekaligus menghidupkan perlawanan masyarakat Bone dan Sopeng untuk melawan kekuasaan Gowa. Setelah berperang selama setahun, Kerajaan Gowa berhasil dikalahkan. Dan Raja Gowa, Sultan Hasanuddin dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bongaya yang sangat mengurangi kekuasaan Gowa.

     Selanjutnya Bone di bawah Palakka menjadi penguasa di Sulawesi Selatan. Persaingan antara Kerajaan Bone dengan pemimpin Bugis lainnya mewarnai sejarah Sulawesi Selatan. Ratu Bone sempat muncul memimpin perlawanan menentang Belanda yang saat itu sibuk menghadapi Perang Napoleon di daratan Eropa. Namun setelah usainya Perang Napoleon, Belanda kembali ke Sulawesi Selatan dan membasmi pemberontakan Ratu Bone. Namun perlawanan masyarakat Makassar dan Bugis terus berlanjut menentang kekuasaan kolonial hingga tahun 1905-1906. Pada tahun 1905, Belanda juga berhasil menaklukkan Tana Toraja, perlawanan di daerah ini terus berlanjut hingga awal tahun 1930-an. Sebelum Proklamasi RI, Sulawesi Selatan, terdiri atas sejumlah wilayah kerajaan yang berdiri sendiri dan didiami empat etnis yaitu ; Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja.

     Pada abad ke XVI dan XVII ada tiga kerajaan besar yang berpengaruh luas di Sulawesi Selatan yaitu kerajaan Luwu, Gowa dan Bone, yang telah mencapai kejayaan pada masa tersebut. Setelah kemerdekaan, dikeluarkan UU Nomor 21 Tahun 1950 dimana Sulawesi Selatan menjadi provinsi Administratif Sulawesi dan selanjutnya pada tahun 1960 menjadi daerah otonom Sulawesi Selatan dan Tenggara berdasarkan UU Nomor 47 Tahun 1960. Selanjutnya berdasarkan UU Nomor 13 Tahun 1964 Pemisahan dilakukan dari daerah otonom Sulawesi Selatan dan Tenggara menjadi daerah otonom Sulawesi Selatan, kemudian terus disempurnakan dengan ditetapkannya UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. Terakhir, pemerintah memecah Sulawesi Selatan menjadi dua, berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2004. Kabupaten Majene, Mamasa, Mamuju, Mamuju Utara dan Polewali  Mandar yang tadinya merupakan kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan resmi menjadi kabupaten di provinsi Sulawesi Barat seiring dengan berdirinya provinsi tersebut pada tanggal 5 Oktober 2004 berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2004.

 

Suku Bangsa di Sulawesi Selatan terdiri dari 

·         Etnis Bugis

·         Etnis Makassar

·         Etnis Mandar

·         Etnis Toraja

·         Etnis Duri

·         Etnis Pattinjo

·         Etnis Bone

·         Etnis Maroangin

·         Etnis Endekan

·         Etnis Pattae

·         Etnis Kajang/Konjo

 

Bahasa

Bahasa yang umum digunakan adalah:

·         Bahasa Makassar adalah salah satu rumpun bahasa yang dipertuturkan di daerah Makassar dan Sekitarnya.

·         Bahasa Bugis adalah salah satu rumpun bahasa yang dipertuturkan di daerah Bone sampai ke Kabupaten Pinrang, Sinjai, Barru, Pangkep, Maros, Kota Pare Pare, Sidrap, Wajo, Soppeng Sampai di daerah Enrekang, bahasa ini adalah bahasa yang paling banyak di pakai oleh masyarakat Sulawesi Selatan.

·         Bahasa Pettae adalah salah satu bahasa yang dipertuturkan di daerah Tana Luwu, mulai dari Siwa,Kabupaten Wajo, Enrekang Duri, sampai ke Kolaka Utara,Sulawesi Tenggara.

·         Toraja adalah salah satu rumpun bahasa yang dipertuturkan di daerah Kabupaten Tana Toraja dan sekitarnya.

·         Bahasa Mandar adalah bahasa suku Mandar, yang tinggal di provinsi Sulawesi Barat, tepatnya di Kabupaten Mamuju, Polewali Mandar, Majene dan Mamuju Utara. Di samping di wilayah-wilayah inti suku ini, mereka juga tersebar di pesisir Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

·         Bahasa Duriadalah salah satu rumpun bahasa Austronesia di Sulawesi Selatan yang masuk dalam kelompok dialek Massenrempulu. Di antara kelompok Bahasa Massenremplu, Bahasa Duri memilki kedekatan dengan bahasa Toraja dan bahasa Tae' Luwu. Penuturnya tersebar di wilayah utara Gunung Bambapuang, Kabupaten Enrekang sampai wilayah perbatasan Tana Toraja.

·         Bahasa Konjo terbagi menjadi dua yaitu Bahasa Konjo pesisir dan Bahasa Konjo Pegunungan, Konjo Pesisir tinggal di kawasan pesisir Bulukumba dan Sekitarnya, di sudut tenggara bagian selatan pulau Sulawesi sedangkan Konjo pegunungan tinggal di kawasan tenggara gunung Bawakaraeng.

·         Bahasa Selayar adalah bahasa yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Sulawesi Selatan yang bermukim diujung selatan provinsi ini khususnya Kab. Kep. Selayar.

 

Budaya

     Salah satu kebiasaan yang cukup dikenal di Sulawesi Selatan adalah Mappalili. Mappalili (Bugis) atau Appalili (Makassar) berasal dari kata palili yang memiliki makna untuk menjaga tanaman padi dari sesuatu yang akan mengganggu atau menghancurkannya. Mappalili atau Appalili adalah ritual turun-temurun yang dipegang oleh masyarakat Sulawesi Selatan, masyarakat dari Kabupaten Pangkep terutama Mappalili adalah bagian dari budaya yang sudah diselenggarakan sejak beberapa tahun lalu. Mappalili adalah tanda untuk mulai menanam padi. Tujuannya adalah untuk daerah kosong yang akan ditanam, disalipuri (Bugis) atau dilebbu (Makassar) atau disimpan dari gangguan yang biasanya mengurangi produksi.

 

Arsitektur Tradisional

     Rumah-rumah di Bugis, Makassar dan Mandar hampir sama bentuknya. Rumah berdiri diatas tiang-tiang (mempunyai kolong). Tinggi kolong berbeda menurut tingkatannya, apakah dia rakyat, berpangkat, bangsawan, atau Raja.

 

Kepercayaan

     Anggapan selama ini mengenai penghuni pertama jaman prasejarah di Sulawesi Selatan, masih berpegang pada penemuan Fritz dan Paul Sarasin tentang orang Toale. Toale berarti orang-orang yang tinggal di hutan atau lebih tepat dikatakan penghuni hutan. Orang Toale masih sekeluarga dengan suku bangsa Wedda di Srilangka.

 

Upacara Adat

     Rambu Tuka merupakan ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada para dewa (Deata) yang telah memberi perlindungan dan keberhasilan dalam hidup.

Rambu Tuka yang merupakan upacara besar terdiri dari :

·         Kapuran pangngan.

·         Ma’ Paling.

·         Ma’ pakande deata do banua.

·         Ma’ pakande deata do ing padang.

·         Merok.

·         Massalu-salu.

 

Filsafat Hidup Masyarakat Setempat

     Aja Mumaelo Ribetta Makkala’ Ricappa’na Letengnge, maksudnya rakyat Sulawesi Selatan menanti dengan penuh harap pemimpin pemerintahan yang bertindak cekatan dan bereaksi cepat mendahului orang lain dengan penuh keberanian meskipun menghadapi tantangan berat.

     Namo Maega Pabblisena, Nabongngo Pollopinna, Teawa Nalureng , maksudnya  biar banyak pendayungnya tetapi tidak becus juru mudinya, saya tidak mau mengikutinya.

 

Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan

No.

Kabupaten/Kota

Kota

Kecamatan

Desa

1.

Kabupaten Bantaeng

Bantaeng

8

46

2.

Kabupaten Barru

Barru

7

40

3.

Kabupaten Bone

Watampone

27

328

4.

Kabupaten Bulukumba

Bulukumba

10

123

5.

Kabupaten Enrekang

Enrekang

12

113

6.

Kabupaten Gowa

Sungguminasa

18

122

7.

Kabupaten Jeneponto

Bontosunggu

11

82

8.

Kabupaten Kepulauan Selayar

Benteng

11

81

9.

Kabupaten Luwu

Belopa

21

208

10.

Kabupaten Luwu Timur

Malili

11

100

11.

Kabupaten Luwu Utara

Masamba

11

165

12.

Kabupaten Maros

Turikale

14

80

13.

Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan

Pangkajene

13

65

14.

Kabupaten Pinrang

Pinrang

12

67

15.

Kabupaten Sidenreng Rappang

Watang Sidenreng

11

67

16.

Kabupaten Sinjai

Balangnipa

9

67

17.

Kabupaten Soppeng

Watansoppeng

8

49

18.

Kabupaten Takalar

Pattallassang

9

61

19.

Kabupaten Tana Toraja

Makale

19

112

20.

Kabupaten Toraja Utara

Rantepao

21

111

21.

Kabupaten Wajo

Sengkang

14

128

22.

Kota Makasar

-

14

143

23.

Kota Palopo

-

9

48

24.

Kota Parepare

-

4

22

 


Profil Daerah Tertinggal Di Provinsi Provinsi Sulawesi Selatan

Opini

  • Pentingnya Dukungan SDM di Kawasan Ekonomi Khusus

Sistem Informasi

  • LPSE
  • Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum