TeleCTG, Inovasi Praktis Alat Pemantau Janin Karya Anak Bangsa


  Rabu, 08 Januari 2020 Berita DITJENPDT

Pemeriksaan kandungan sangat penting dilakukan demi mencegah kematian ibu dan bayi. Menjelang proses persalinan, dokter kandungan biasanya menyarankan ibu hamil untuk melakukan Cardiotocograph (CTG).

Berbeda dengan USG yang memberi gambaran visual dari janin, CTG menjabarkan secara detail gerakan janin, detak dan irama jantung, kontraksi uterus, kondisi plasenta serta faktor risiko ibu hamil.

Sayangnya tidak semua ibu hamil memiliki akses ke alat ini, terutama di daerah tertinggal. CTG biasanya berukuran besar dan mahal. Selain itu, jumlah dokter kandungan di daerah tertinggal saat ini masih terbatas.

" Jumlah bidan di daerah tertinggal rata-rata hanya 248 orang per kabupaten, dengan dokter 32 orang. Padahal menurut WHO, idealnya 1 dokter hanya menangani 2500 pasien. Tapi di daerah tertinggal bisa sampai 7000 pasien per dokter," ujar Samsul Widodo, Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) di Jakarta, Senin 16 Desember 2019.

Inovasi CTG yang Lebih Praktis

Startup teknologi di bidang kehamilan, Sehati, memperkenalkan alat TeleCTG pertama di dunia. Alat ini merupakan inovasi dari CTG yang bisa digunakan secara terpadu dari jarak jauh dan secara real time.

Sehati TeleCTG terdiri dari aplikasi Ibu Sehati, Bidan Sehati, TeleCTG Sehati, Dashboard Sehati dan Pusat Konsultasi.Tak seperti USG yang hanya boleh dioperasikan oleh dokter kandungan, alat ini tersedia di puskesmas dan dapat digunakan oleh bidan.

"Janin akan diperiksa oleh bidan, dicari apakah ibu hamil punya faktor risiko. Nanti hasilnya akan langsung dibaca oleh dokter kandungan yang ada di pusat rumah sakit. Jika memang ada faktor risiko, di aplikasi ada daftar rumah sakit rujukan terdekat yang mampu melayani masalah tersebut," ujar dr. Ari Waluyo, Sp.OG, Co-Founder & Chief Executive Officer Sehati Group.

Bentuk alat yang ringkas membuatnya mudah dibawa oleh bidan ketika harus melakukan home visit. Penentuan status janin ini dapat membantu bidan dalam memberikan keputusan dan penanganan yang tepat dan cepat untuk ibu hamil.

Hanya Butuh Waktu 20 Menit

CTG dapat dilakukan ketika usia janin sudah di atas 32 minggu. Prosesnya tidak lama, hanya sekitar 20 menit. Bidan akan menempelkan CTG Probe yang memiliki 3 sensor; Ultrasonic Transducer, TOCO Transducer dan Fetal Marker.

Alat sensor ditempelkan dengan bantuan Abdomen Belt. Data analog yang diterima dari transducer kemudian diubah menjadi data digital dengan TeleCube. Data dipantau lewat aplikasi di smartphone dan langsung disimpan ke server atau pusat data rumah sakit.

Mampu Turunkan ANgka Kematian Ibu dan Bayi

Alat ini sudah digunakan oleh 20.000 ibu hamil di 11 provinsi dan 27 kabupaten Indonesia. Di Indramayu, TeleCTG menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dari 61 jiwa menjadi 34 jiwa dan Angka Kematian Bayi (AKB) dari 242 jiwa menjadi 215 jiwa. Sedangkan di Kupang, AKI menurun dari 8 menjadi 5 jiwa.

Menariknya lagi, Solusi Sehati TeleCTG merupakan murni karya anak bangsa dan akan dibawa ke Amerika.

"Kita yang pertama bikin versi Tele dari CTG. Setelah ini Polandia dan Singapura juga akan bikin. Nanti di 2020 teknologinha akan dibawa ke Amerika, diterapkan di berbagai desa di Colombia, Peru, Chile dan Argentina," kata dr.Ari.

Sumber: Dream.co.id