Garam dan Rumput Laut, Mesin Ekonomi Sabu


  Rabu, 31 Januari 2018 Berita DITJENPDT

Tanahnya yang gersang dan sangat panas, bagai tak ada harap untuk dapat sejahtera mengandalkan alam. Namun, asa tak berhenti tanpa peluh. Sang pencipta memberikan Sabu laut yang biru nan jernih, hasil pertemuan arus besar Samudera Hindia dan Pasifik. Sebuah karunia yang selama ini tak terlirik.

Dari laut, kini Kabupaten Sabu Raijua telah menjadikan Garam dan Rumput Laut sebagai produk unggulan daerahnya. Alam yang gersang kini telah menjadi potensi, sebuah anugerah yang harus benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Merintis “Surga” Garam di Pulau Sabu

Sang surya baru saja meninggalkan peraduannya. Sisa-sisa sinarnya meninggalkan remang-remang keemasan di sekitaran tambak garam Kampung Lobo Bali, di pantai Bali, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur.

Sejumlah pekerja tambak garam seluas 170 hektare, baik pria dan wanita, masih terlihat mengumpulkan kristal-kristal garam yang masih berada di dalam tambak garam tersebut.

Sementara itu, sebagian pekerja lainya sudah mulai bersiap-siap untuk kembali ke rumahnya masing-masing karena matahari pun perlahan-lahan kembali ke peraduaannya.

Dari kejauhan, suara para pekerja tambak tidak terdengar karena tenggelam oleh suara ombak yang memecah sepenjang garis pantai Bali yang indah.

Sejauh mata memandang, hamparan pasir yang putih, air laut yang jernih dan keemasan langit akibat sisa-sisa pancaran sang surya menambah kecantikan pantai Bali yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.

Ridholof A Kaleuju tampak telah selesai memanen kurang lebih 15 ton garam di satu hektare tambak tersebut. Dirinya terlihat lelah pada hari itu.

Namun baginya lelahnya bisa terbayar setelah pada akhir bulan dirinya bersama teman-temannya bisa mendapatkan gaji sebesar 1,2 juta rupiah sesuai dengan upah minimun regional (UMR) dari provinsi Nusa Tenggara Timur.

"Mau lelah seperti apapun pasti akan terbayarkan dengan gaji sebesar 1,2 juta rupiah per bulan," ujar pria yang sudah bekerja sebagai petani tambak garam sejak tahun 2014.

Senada dengan Ridholof, petani tambak garam lainnya ibu Wiran mengaku hidupnya benar-benar berubah setelah adanya tambak garam tersebut karena dapat memberikan mereka pemasukan bagi dirinya dan sejumlah pekerja di tambak garam itu, setiap bulannya dengan pasti.

Tambak garam yang dikelola Wiran dan sejumlah pekerja lainnya merupakan sebuah tambak garam milik Pemerintah Daerah Sabu Raijua yang dikelolah tanpa campur tangan dari para pengusaha lainnya.

"Kami senang, karena ada sumber pendapatan bagi kami para pekerja tambak garam di desa ini," ujar wanita yang sudah tiga tahun bekerja di pabrik garam Nataga.

Sejumlah warga di kampung Bali tersebut pada awalnya nyaris tidak mempunyai pendapatan terutama pada pada musim kemarau di saat semua hasil tanam dan lahan yang digarap untuk pertanian kering akibat krisis air.

Bila kemarau tiba satu-satunya sumber pendapatan warga di desa itu dan sejumlah warga di desa lain di pulau Sabu itu hanya bergantung pada penjualan gula merah cair hasil sadapan dari pohon lontar.

Warga di daerah itu pun baru memulai mengolah lahan untuk ditanami padi dan jagung pada saat musim penghujan pun tiba.

Perlahan-lahan kesulitan warga di Kampung Bali tersebut mulai teratasi, setelah pemerintah daerah Sabu Raijua mulai berinisiatif untuk memanfaatkan lahan pesisir pantai Bali untuk dikembangkan menjadi tambak garam.

Teknologi yang digunakan oleh Pemerintah Daerah Sabu Raijua untuk mengolah tambak garam tersebut adalah dengan cara "Geomembran high density polythylene" (HDPE).

Nimrot Damanuna, tenaga teknisi pabrik garam Nataga menjelaskan bahwa proses produksi garam berteknologi geomembran ini menggunakan sistem penguapan.

 “Jadi kita melakukan pengukuran suhu dengan alat ukur yang dipakai selama ini yaitu namanya baume meter. Disitu alat ukur menentukan angka suhu pada setiap proses masing-masing petak. Misalnya dari peminihan air tua, pada peminihan pertama butuh suhu sampai 5 derajat baume meter, kemudian peminihan kedua itu 6-7 derajat baume meter, kemudian peminihan ketiga itu 9-10 derajat baume meter, lalu di peminihan air tua ini paling terakhir suhunya pada suhu 23 derajat baume meter,” terang pria berusia 39 tahun ini.

Hingga saat ini sudah ada tiga lokasi dikembangkan oleh pemerintah daerah Sabu. Ketiga daerah pengembangan garam itu sendiri adalah di Desa Bali, Kecamatan Sabu Timur, Desa Tulaika (Sabu Barat) dan Desa Lobo Hede (Hawu Mehara).

Panas yang Membawa Berkah

Cuaca panas dan angin kencang di pulau yang berhadapan dengan laut lepas, Samudera Hindia itu tidak menjadi bencana bagi pemerintah daerah dan masyarakat di Sabu Raijua.

Wakil Bupati Sabu Raijua, Nikodemus Nithanel Rihi Heke justru berpendapat panas dan angin di daerah itu patut disyukuri, bukan untuk ditakuti dan menyerah dengan keadaan.

“Ini sebenarnya potensi. Kalau di pulau Jawa panas yang berkepanjangan itu mungkin disebut bencana, tetapi kalau di Sabu Raijua kita anggap itu sebagai suatu anugerah dan ini harus kita manfaatkan anugerah itu,” begitu kata pria lulusan magister Universitas Padjajaran ini.

Berkat panas dan angin, produksi garam di Sabu setiap bulannya bisa panen hingga empat kali dengan per hektarnya bisa mencapai 15 ton per minggu. Ini adalah panas dan angin yang membawa berkah bagi masyarakat Sabu Raijua.

Hingga saat ini setiap kali panen ada sekitar 15 ton yang dipanen sehingga dalam sebulan tambak garam tersebut bisa menghasilkan kurang lebih 10 ribuan ton.

Garam yang ada di Sabu juga saat ini telah dipasarkan ke sejumlah daerah di Indonesia mengingat garam milik Sabu sendiri telah mengantongi sertifikat SNI sejak 2015 lalu.

Sejumlah daerah yang telah menjadi pelanggan tetap bagi pemerintah daerah Sabu sendiri saat ini ada tiga yakni dari Makasar (Sulawesi), Pontianak (Kalimantan Barat) dan Surabaya (Jawa Timur).

Setiap bulan para pelanggan yang membeli garam di Sabu justru hanya bisa membawa kurang lebih 1.600 ton garam ke daerahnya masing-masing.

Hal tersebut karena terkendala dengan kondisi dermaga yang ada masih sangat terbatas, sehingga kapal yang datang tidak bisa membawa lebih dari 2 ton muatan.

"Kita berharap agar kapal-kapal yang datang bisa membawa dengan jumlah yang lebih dari 2 ribuan ton tetapi kendala saat ini adalah kondisi dermaga kita yang masih sangat terbatas, dan kalau ada kapal yang membuat bawaan lebih banyak pasti akan kandas," ujar Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Sabu Raijua, Jacobos Ratu Udju.

Pengembangan dermaga sangat dibutuhkan oleh Sabu, karena panjang dermaga saat ini hanya 70 meter. Diperlukan pengembangan panjang dermaga sekitar 100 sampai 200 meter agar mampu mengimbangi besarnya hasil produksi garam Sabu. Pemerintah daerah Sabu Raijua sendiri bercita-cita untuk terus mengembangkan garam di sepanjang pesisir pantai Sabu Raijua.

Dengan luas lahan yang hingga saat ini ada kurang lebih mencapai 170 hektar, pemerintah daerah Sabu Raijua bertekad mengembangkannya menjadi 400 hektare dengan harapan bisa mempekerjakan kurang lebih 4.000 orang di daerah Sabu, sehingga bisa mengurangi angka pengangguran di Sabu Raijua.

Hingga saat ini, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, tingkat pengangguran di Sabu Raijua sudah berkurang menjadi 3.000 orang dari 17.000 sejak pembentukan kabupaten pada pada 36 November 2008, berdasarkan undang-undang Nomor 52 tahun 2008.

Pemasok garam Sabu memiliki potensi "surga" garam karena didukung oleh kemarau yang berlangsung selama delapan bulan, sementara kecepatan anginnya di tempat terbuka seperti di pesisir pantai bisa mencapai 40 kilometer per jam.

Merangkai Hidup Bersama Rumput Laut

Seorang nelayan tampak khusuk di bibir laut. Saat dihampiri ternyata ia sedang mengikat rumput laut pada seutas tali nilon. Tujuannya untuk budidaya rumput laut. Rumput laut tersebut tampak hijau dan segar. Rumput laut dijemur di atas bangku panjang yang terbuat dari bambu, dan digantung berderet panjang pada tiang-tiang.

Menurut pengakuan sang petani, Eduard Lado namanya, dalam sebulan ia bisa memanen rumput laut paling sedikit setengah ton, dengan harga jual perkilonya sebesar 7 ribu rupiah. Harga yang sudah dipatok oleh pemerintah daerah Sabu.

Siang itu, sekitar pukul 11.00 WITA, panas matahari begitu menyengat kulit. Puluhan petani rumput laut sibuk menjemur dan membalikkan posisi rumput laut hasil panen agar keringnya merata. Mereka bergerak cepat mengejar sinar matahari yang menyengat. Masing-masing memperhatikan kondisi rumput laut agar tidak berada pada posisi teduh.

Eduard mengatakan, budidaya rumput laut secara besar-besaran dimulai sejak 2010 setelah Sabu Raijua memiliki pemerintahan definitif. Sebelumnya, kepala daerah di Sabu Raijua dijabat oleh pejabat bupati. Sabu Raijua dimekarkan pada 2008, pisah dari kabupaten induk, Kupang.

Sebelum itu, petani sebenarnya telah mengembangkan rumput laut, tetapi hanya di beberapa titik di desa itu. Kini, banyak desa-desa di Sabu menjadi sentra penghasil rumput laut.

Dalam membudidayakan rumput laut, kebanyakan petani menggunakan metode rakit apung, sebagian lainnya menggunakan metode lepas dasar dan tali pangang (long line). Metode budidaya ini tergantung dari kondisi geografis pantai, air pasang/surut, dan gelombang laut. Hampir semua pantai di Sabu Raijua dapat dijadikan sebagai tempat pembudidayaan rumput laut, selain tambak garam.

Pabrik Rumput Laut, Angin Segar Bagi Petani

Tidak seperti pada kabupaten-kabupaten lain di NTT, rumput laut yang dipanen warga berlimpah, tetapi para petani kesulitan dalam memasarkan hasil panenannya. Mau dijual ke mana? Soal ini terjawab di Sabu, yakni dengan adanya pabrik pengolahan rumput laut.

Pabrik ini terdapat di Kelurahan Laemaggu, Kecamatan Sabu Timur, dekat dengan Pelabuhan Biu. Pabrik yang diresmikan oleh Gubernur NTT Frans Lebu Raya ini bisa memproduksi 10 ton rumput laut kering per harinya.

Paling tidak 30 desa di Sabu Raijua merupakan desa potensial untuk budidaya rumput laut. Pabrik rumput laut di Sabu Raijua akan menghasilkan berbagai jenis makanan dan minuman dari rumput laut, antara lain dodol, sirup, pilus, kerupuk, dan bahan kosmetik.

Dengan adanya pabrik rumput laut ini harga jual rumput laut akan menguntungkan petani karena tidak akan dipermainkan sesuka hati oleh para pedagang atau pengumpul. Adanya pabrik rumput laut ini juga membuka lapangan kerja baru di Sabu dan memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah.

“Pendapatan daerah dari rumput laut melalui pengiriman ke luar pulau untuk tahun 2015 sebesar 1,4 miliar. Untuk tahun 2016 ini dengan dibangunnya pabrik pengolahan rumput laut sampai dengan bulan September sudah mencapai 1,2 miliar,” ujar Efer Uli, Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kabupaten Sabu Raijua.