Ditjen PDT Bantu Pendidikan Anak di Daerah Tertinggal


  Kamis, 15 Maret 2018 Berita DITJENPDT

JAKARTA - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kementerian Desa) membantu pendidikan anak di daerah tertinggal dengan membangun asrama siswa dan rumah guru.

Terkait hal itu, Direktorat Pengembangan Sumber Daya Manusia, Ditjen Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Desa melakukan rapat koordinasi dan sosialisasi pembangunan asrama siswa dan guru di daerah terpencil yang diikuti 41kabupaten tertinggal di Jakarta.

Direktur Pengembangan Sumber Daya Manusia Ditjen Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Kementerian Desa, Priyono, di Jakarta, Selasa (13/3) mengatakan, berdasarkan temuan lapangan, selama ini banyak siswa SD dan SMP di daerah tertinggal yang terpaksa menempuh perjalanan selama berjam-jam untuk mencapai sekolah mereka karena jarak antara rumah dan sekolah yang cukup jauh.

Bahkan, ada anak-anak di daerah terpencil yang terpaksa harus berjalan kaki belasan hingga puluhan kilometer untuk mencapai sekolah mereka. Akibatnya, ketika sampai di sekolah, kata Priyono, mereka sudah lelah dan konsentrasi belajar mereka pun menurun. Dampaknya, mereka tidak bisa berkonsentrasi lagi dalam mengikuti pelajaran.

Dikatakan, sebagian lagi, terpaksa tinggal dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan orang lain yang rumahnya dekat dengan sekolah, agar mereka tidak kelelahan dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik.

Kondisi ini jelas tidak ideal untuk pendidikan yang baik. Padahal, paparnya, pendidikan merupakan salah satu kunci untuk keluar dari ketertinggalan dan kemiskinan. “Nah, bagaimana mungkin mereka bisa belajar dengan baik kalau tidak ada fasilitas pendukung yang memadai,” kata Priyono.

Untuk itulah, ujarnya, Kementerian Desa dalam dua tahun terakhir ini menginisiasi pembangunan asrama siswa dan rumah guru yang dekat dengan sekolah. Dengan demikian, para siswa dan guru bisa lebih berkonsentrasi dalam proses belajar mengajar.

Priyono mengatakan, dengan keterbatasan dana yang ada, pihaknya tahun lalu sudah membangun asrama siswa dan rumah guru yang dilengkapi dengan persyararan minimal seperti furnitur dan penerangan di lima kabupaten. Sedangkan, untuk tahun ini, pihaknya akan membangun asrama siswa dan rumah guru di 10 kabupaten daerah tertinggal.

Diharapkan, dengan adanya asrama siswa dan rumah guru ini, maka kegiatan belajar mengajar di daerah tertinggal akan lebih baik dan bisa menghasilkan sumber daya manusia yang cerdas. Sehingga, pada akhirnya akan membawa desa dan kabupaten tersebut keluar dari status daerah tertinggal.

Sementara itu, Dirjen Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Desa, Samsul Widodo mengatakan, berdasarkan data standar pelayanan minimal (SPM) jarak sekolah dari permukiman di 122 kabupaten tertinggal, di mana jarak untuk SD sekitar 3 km dari permukiman, dan jarak untuk SMP 6 km dari permukiman, ternyata masih ada 24 persen dari 122 kabupaten tertinggal yang belum memenuhi persyaratan standar pelayanan minimal.

Karena itu, tuturnya, kehadiran asrama siswa dan rumah guru ini merupakan menjadi salah satu solusi untuk mengatasi hal tersebut. Kendati demikian, ia mengingatkan, agar pembangunan asrama siswa dan rumah guru ini benar-benar diperhatikan agar bisa bermanfaat dan dapat membantu kegiatan belajar mengajar siswa di daerah tertinggal.