Digitalisasi Pariwisata di Daerah Tertinggal


  Kamis, 16 Mei 2019 Berita DITJENPDT

Daerah Tertinggal sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2014 tentang Percepatan Pembangunan Daerah, merupakan daerah kabupaten yang wilayah serta masyarakatnya kurang berkembang dibandingkan dengan daerah lain dalam skala nasional. Saat ini terdapat 122 daerah tertinggal di Indonesia sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 131 Tahun 2015 Tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015-2019. Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019, kebijakan pembangunan daerah tertinggal diarahkan pada peningkatan kegiatan promosi daerah tertinggal, kegiatan yang memenuhi kebutuhan dasar, perbaikan pada pelayanan dasar publik, serta mengembangkan perekonomian masyarakat.

Potensi desa-desa di daerah tertinggal cukup besar, baik pada sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, termasuk pada sektor pariwisata. Sesuai data Potensi Desa 2018 oleh Badan Pusat Statistik, secara total terdapat 3.576 objek wisata di Daerah Tertinggal atau sekitar 19,35% dari total objek wisata perdesaan di Indonesia. Destinasi-destinasi yang terdiri dari destinasi alam, budaya, minat khusus, dan buatan ini siap berpotensi besar untuk dikembangkan.

Upaya percepatan pembangunan pariwisata di daerah tertinggal perlu dilakukan secara inovatif. Saat ini perkembangan digital di Indonesia menjadi salah satu yang tercepat dan berangsur-angsur masuk dalam semua lini kehidupan. Sampai dengan Tahun 2017, pengguna Internet di Indonesia mencapai 143,26 juta jiwa dan terus meningkat setiap tahunnya. Penetrasi digital di Indonesia juga telah memasuki wilayah perdesaan, termasuk yang berstatus daerah tertinggal. Tahun 2019 Kementerian Komunikasi dan Informatika menjanjikan bahwa seluruh desa di pelosok Indonesia sudah akan menikmati jaringan internet. Hal ini perlu dimanfaatkan termasuk dalam pengembangan pariwisata di daerah tertinggal. Setidaknya, saat ini terdapat 992 startup yang terdaftar di Indonesia, dimana startup pariwisata menempati urutan ketiga terbanyak setelah e-commerce dan pendidikan. Startup pariwisata saat ini sudah tidak hanya berbasis untuk pemesanan online kamar hotel saja namun sudah merambah pada pemesanan tiket atraksi pariwisata, travel agent, tour organizer, dan personal guide tour.

Platform digital pada sektor pariwisata dapat dimanfaatkan untuk promosi destinasi pariwisata di daerah tertinggal dengan cakupan yang lebih luas, sehingga dapat menjangkau wisatawan global yang terus meningkat. Mengingat, bahwa UNWTO memprediksikan pada Tahun 2030 akan terdapat peningkatan 57% outbound tourist. Dengan berkolaborasi bersama para pegiat startup pariwisata, promosi pariwisata di daerah tertinggal dapat dilakukan dengan cara yang lebih efektif dan efisien.

Lombok menjadi salah satu lokasi pilot project pengembangan pariwisata secara digital. Berkolaborasi dengan Caventer Indonesia dan GOERS, Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal secara bertahap melakukan pengembangan pada destinasi pariwisata di Lombok. GOERS dan Caventer Indonesia akan membantu dengan membuatkan paket pariwisata Lombok yang akan dipasarkan secara digital serta membangun cashless payment system pada setiap destinasi. Penerapan paket pariwisata secara digital diharapkan dapat menarik sebanyak mungkin wisatawan ke destinasi-destinasi terkait. Sedangkan penerapan cashless payment system diharapkan dapat memperbaiki sistem pengelolaan destinasi menjadi lebih baik kedepannya, terutama pada manajemen keuangan ataupun data mining yang selama ini menjadi kelemahan pada sebagian besar destinasi di Lombok dan Daerah Tertinggal lainnya.

Workshop pengembangan pariwisata yang dilaksanakan di Ruang Rapat Kantor Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat ini menjadi salah satu kegiatan koordinasi pertama antara Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi dengan Dinas Pariwisata di Provinsi Nusa Tenggara Barat serta para pegiat pariwisata di Lombok terkait rencana pengembangan pariwisata di Daerah Tertinggal. Antusiasme seluruh peserta diharapkan menjadi pertanda baik dalam pelaksanaan rencana pengembangan pariwisata di Lombok mendatang.