Metode Sukses Cegah Stunting Di Daerah Tertinggal Akan Diimplementasikan Di Jawa Timur


  Kamis, 01 Agustus 2019 Berita DITJENPDT

Pada tahun 2012, WHO menetapkan target global untuk mengurangi 40% jumlah anak balita stunting pada tahun 2025. Target ini diterjemahkan menjadi pengurangan sebesar 3,9% pertahun dimana diharapkan jumlah balita stunting akan berkurang dari 171 juta anak di tahun 2010 menjadi sekitar 100 juta pada 2025.

Sebagai upaya untuk mencegah peningkatan angkat stunting di Indonesia maka Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Dan Transmigrasi mengadakan Sosialisasi Inovasi Intervensi Aksi Cegah Stunting di Surabaya (30/07/2019).

Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal, Samsul Widodo, membuka acara Sosialisasi Inovasi Intervensi Aksi Cegah Stunting yang dilaksanakan di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Samsul Widodo mengatakan, “Pencegahan stunting penting dilakukan untuk memperbaiki tumbuh kembang serta tingkat intelektual generasi penerus bangsa”. Selain sosialisasi, pembahasan hari ini mencakup membangun komitmen dari masing-masing kepala daerah dan dinas terkait, termasuk dalam pemanfaatan APBD dan Dana Desa secara efektif dalam penanganan stunting di masing-masing daerah, ujar Samsul Widodo.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Provinsi Jawa Timur Dr. H. Emil Elestianto Dardak M.Sc.Emil, menyampaikan, “seluruh pihak yang terlibat pada sosialisasi hari ini mampu saling bertukar pikiran dan pengalaman demi menyusun program yang tepat sasaran, khususnya untuk anak-anak di Jawa Timur”.

Acara tersebut juga turut dihadiri Tim Dokter Spesialis Anak RSUPN Cipto Mangunkusumo yang dipimpin oleh Prof. Dr. dr. Damayanti R Sjarif, Sp.A(K) dan Danone Life Nutrition terkait pencegahan dan penanganan stunting. dr. Damayanti menjelaskan bahwa, “Stunting adalah penyakit permanen dan irreversible atau tidak bisa diperbaiki jika anak sudah melewati usia dua tahun”.

Stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak akibat malnutrisi kronik masih menjadi tantangan di Indonesia, termasuk di Jawa Timur, dimana prevalensi balita stunting masih berada di angka yang tinggi, yaitu 26,2%, ujar dr. Damayanti.

drg. Vitria Dewi, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi jawa Timur menyampaikan bahwa, “Jawa Timur merupakan provinsi yang besar, dengan penduduk mencapai 40 juta jiwa, namun banyak kabupaten tidak terbebas dari stunting. Di Provinsi Jawa Timur telah dilakukan pencegahan stunting dengan melakukan edukasi dengan pola kultur yang menarik, sehingga yang disampaikan kepada masyarakat bukan hanya sekedar teori tetapi juga dapat dilaksanakan dengan baik.”

Oleh karena itu, Kementerian Desa PDTT beserta jajaran pemerintah terkait dari berbagai kabupaten melakukan pembahasan Rencana Replikasi ‘Aksi Cegah Stunting’ di provinsi Jawa Timur. Metode pencegahan stunting yang dilakukan oleh Ditjen PDT Kemendes PDTT di daerah tertinggal, Kabupaten Pandeglang, yang berhasil menurunkan angka stunting sebesar 8,4 persen dalam kurun waktu 6 (enam) bulan, yaitu bulan Mei 2018 sampai bulan Februari 2019 akan direplikasi di Jawa Timur.

“Hasil kerjasama dalam pilot project Aksi Cegah Stunting di Pandeglang menjadi bekal yang sangat penting untuk kita dalam melakukan upaya pencegahan stunting secara nyata dan strategis di berbagai daerah prioritas lainnya. Menyusul Kabupaten Pandeglang, ada 19 kabupaten di Jawa Timur yang akan menjadi lokasi prioritas pelaksaan replikasi program ini berikutnya.” ujar Samsul Widodo.

Samsul Widodo juga menambahkan bahwa dengan adanya acara ini dan lewat cerita kesuksesan pencegahan stunting di Kabupaten Pandeglang, salah satu daerah tertinggal, maka kegiatan pencegahan stunting dapat digencarkan. Pencegahan stunting salah satunya bisa dilakukan dengan adanya Komitmen Pemerintah Daerah terkait penggunaan APBD dan Dana Desa yang difokuskan untuk pencegahan stunting.

Selanjutnya Dr. H. Emil Elestianto Dardak M.Sc. menyatakan bahwa pemerintah Provinsi Jawa Timur akan melakukan langkah konkrit dengan mengumpulkan instansi terkait dan siap menindaklanjuti berdasarkan pengalaman di Desa Banyumundu, Kabupaten Pandeglang.

“Orang tua juga harus memberikan atensi terkait stunting dan desa diberikan dorongan, serta penguatan Ditjen PDT diharapkan memberikan sinergi untuk program pencegahan stunting ini.", kata Emil.

"Pelaksanaan penanganan stunting di Desa Banyumundu diharapkan akan menjadi rujukan dalam pencegahan dan penanganan stunting yang cepat dan tepat sasaran di wilayah Jawa Timur", tutup Emil.