Peningkatan Kapasitas Bersama dr. Ryu Hasan, Membahas Neuroscience


  Selasa, 27 Agustus 2019 Kegiatan DITJENPDT

Dalam Rangka Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia agar bijak menanggapi isu hoax, Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal mengadakan Stadium General dengan tema Pengenalan Terhadap Neuroscience, yang dipaparkan oleh dr. Roslan Yusni Hasan (Ryu Hasan) di Ruang Oproom, Gedung Utama Kantor Kementerian Desa PDTT, Jakarta Selasa (27/8).

Saat ini dunia semakin berkembang dan maju demikian halnya dalam teknologi dan tidak bisa kita hindari. Namun demikian, teknologi bisa menjadi dua mata pisau. Jika dilakukan untuk kebaikan maka hasilnya akan positif, tapi tak jarang teknologi justru dimanfaatkan untuk kepentingan sesaat, kepentingan kelompok dan kepentingan yang berakibat memecah belah kesatuan masyarakat. Seperti hoax yang banyak terjadi di media sosial.

Dalam paparannya Dokter Ryu Hasan menjelaskan bahwa Pengetahuan dan pendapat yang berkembang dimasyarakat kebanyakan tidak ilmiah atau tidak berdasarkan “evidences base”,
Sementara manusia pada umumnya lebih menyukai sebuah “keyakinan” meskipun tanpa adanya bukti real, atau tanpa evidance base.

Neuroscience sendiri, berkembang pada akhir abad 20. Setelah ada komputer, para ahli baru menyadari bahwa cara kerja otak seperti komputer. Neuroscience mempelajari apa yang sedang terjadi daripada meramalkan apa yang terjadi.

Neuroscience sendiri dimanfaatkan oleh banyak orang didunia karena metode memanipulasi otak yang biasa disebut Hoax. Hoax sendiri adalah berita bohong yang diendorse menjadi kebenaran. Hoax muncul dari pemikiran yang emosional, sehingga dibutuhkan pengetahuan kognitif. Untuk mengatasi hal tersebut tergantung dari bagaimana seseorang dapat mengelolanya dengan kecerdasaan emosi.

Oleh karenanya, memahami Neuroscience berarti memahami secara baik bagaimana manusia bisa hati hati untuk menyadari mana yang bermanfaat bagi kehidupan keseharian, dan mana yang berbahaya bagi kehidupan kita.