Aceh Singkil "Permata Aceh" yang Belum Terasah


  Selasa, 16 Januari 2018 Berita DITJENPDT

Jika di timur Indonesia punya surga bernama Raja Ampat, di barat Indonesia terdapat Pulau Banyak. Gugusan pulau di Kabupaten Aceh Singkil, Aceh ini bagaikan perawan karena keindahan alamnya yang masih alami, berupa pantai berpasir putih bersih, laut jernih, dan langit biru.

"Selain itu, di sini belum banyak orang sehingga sangat cocok untuk melepas penat di tengah kesibukan,” ujar Steve, wisatawan asal Australia ketika ditemui di salah satu resort di Pulau Bangkaru, Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, Aceh, pekan lalu.

Pulau Banyak merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Aceh Singkil. Letaknya di perairan Samudra Hindia atau sekitar 20 mil laut (37,04 kilometer) dari daratan Sumatera. Pulau ini terdiri dari 99 pulau besar dan kecil. Penghuninya sekitar 6.000 jiwa dengan pekerjaan mayoritas nelayan.

”Dari cerita Legenda Tuan Tapa yang berkembang di masyarakat setempat, konon pulau ini dahulu satu pulau besar. Namun, pulau besar itu hancur berkeping-keping karena pertarungan antara Tuan Tapa yang bertinggi sekitar 12 meter dan dua naga asal negeri Tiongkok,” ucap Mansurddin, seorang warga asli Pulau Balai, Pulau Banyak.

Pulau Banyak memiliki potensi wisata yang kaya. Hampir semua gugusan Pulau Banyak memiliki pantai berpasir putih bersih, seperti di Pulau Palambak. Hamparan pantai berpasir putih di Palambak terbentang lebih dari 5 kilometer. Sangat cocok untuk bermain pasir dan berjemur menikmati pancaran sinar matahari.

Di beberapa pulau pun terdapat titik untuk menyelam dan melihat pemandangan bawah laut, berupa terumbu karang dan ikan laut berwarna-warni. Salah satu titik menyelam terdapat di perairan Pulau Tailani. Bahkan, karena air lautnya jernih, pemandangan bawah laut itu bisa dinikmati dari permukaan laut tanpa harus menyelam.

Sejumlah pulau di sana juga memiliki ombak laut yang menjadi idaman peselancar. Contohnya, di Pulau Bangkaru. Di sana ombak laut bertinggi rata-rata 5-6 meter. Ombak seperti itu datang setiap satu menit sekali. Terutama saat musim angin barat antara bulan April-Agustus, banyak wisatawan mancanegara singgah untuk menikmati ombak tersebut. Di Bangkaru pula terdapat tempat konservasi penyu hijau. Pada bulan tertentu, banyak penyu hijau yang bertelur di sana.

Selain itu, di sejumlah gugusan Pulau Banyak terdapat tempat untuk melihat matahari terbit dan terbenam. Matahari yang bangun dan tertidur di sana berbentuk lingkaran penuh dengan warna kuning kemerah-merahan. Hal ini ditunjang kondisi langit yang masih bersih tanpa kontaminasi polusi udara.

Belum dikenal

Namun, wisatawan domestik ataupun mancanegara belum banyak yang mengenal Pulau Banyak. Merujuk ”Aceh dalam Angka 2013”, jumlah kunjungan tamu ke Kabupaten Aceh Singkil,

termasuk Pulau Banyak, adalah domestik 172.600 orang dan mancanegara 1.886 orang pada 2012. Angka itu jauh jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan tamu ke Pulau Sabang yang relatif telah dikenal, yaitu domestik 212.165 orang dan mancanegara 4.662 orang pada 2012.

”Padahal, potensi wisata di Pulau Banyak sangat luar biasa. Bahkan, bisa lebih baik dari Pulau Sabang maupun Pulau Bali jika digarap dengan optimal,” kata Rinaldi, seorang fotografer dari Banda Aceh.

Kondisi demikian, karena minimnya promosi wisata yang dilakukan pemerintah daerah, terutama Pemerintah Provinsi Aceh. Bahkan, promosi wisata Pulau Banyak justru lebih gencar dilakukan agen perjalanan di Medan, Sumatera Utara.

Contohnya wisatawan asal Australia, Sean. Ia datang ke Pulau Banyak setelah membaca referensi yang dimuat di situs web wisata asal Sumatera Utara. ”Saya juga datang ke sini melalui Bandara Kualanamu, Medan (Sumut). Lalu, meneruskan perjalanan ke Aceh Singkil dan Pulau Banyak,” tutur dia.

Di sisi lain, akses transportasi ke kawasan Aceh Singkil, termasuk ke Pulau Banyak, masih minim. Tak banyak moda transportasi umum dari Banda Aceh ke Aceh Singkil. Cara utama untuk menuju ke Aceh Singkil adalah dengan menggunakan kendaraan pribadi atau menyewa. Adapun waktu tempuh jalur darat dari Banda Aceh ke Aceh Singkil 12-14 jam lewat darat.

Dari Aceh Singkil ke Pulau Banyak pun hanya tersedia akses kapal feri yang tak berlayar setiap hari. Kapal feri dari Aceh Singkil ke Pulau Banyak hanya ada tiga kali seminggu, yakni pada hari Selasa, Jumat, dan Minggu.

Demikian pula dari Pulau Banyak ke Aceh Singkil hanya ada tiga kali seminggu, yakni hari Rabu, Sabtu, dan Minggu. Adapun waktu tempuh jalur laut dari Aceh Singkil ke Pulau Banyak 3-3,5 jam.

”Datang ke sini sangat melelahkan. Kalau bukan karena potensi wisata yang tinggi, mungkin tidak ada yang tertarik untuk ke Aceh Singkil, terutama Pulau Banyak,” ujar Hasbi, wisatawan domestik asal Banda Aceh.

Butuh pusat

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Aceh Reza Pahlevi mengatakan, Aceh Singkil merupakan kabupaten baru yang dimekarkan dari Kabupaten Aceh Selatan pada 1999. Daerah ini baru mulai melakukan pembangunan dalam sepuluh tahun terakhir. 

”Infrastruktur jalan, misalnya jalan aspal dari Aceh Selatan ke Aceh Singkil, baru ada pada 2003,” ucap dia.

Menurut Reza, agar cepat berkembang di segala bidang, Aceh Singkil butuh banyak perhatian dari sejumlah instansi terkait. Apalagi pada sektor pariwisata. Pembangunan sektor wisata tidak hanya tanggung jawab dinas pariwisata. Pembangunan sektor wisata butuh kerja sama multisektor, seperti pekerjaan umum, perhubungan, dan ekonomi kreatif.

Oleh sebab itu, Disbudpar Aceh berupaya berkoordinasi dengan pemerintah pusat agar sejumlah instansi bisa dikoordinasikan untuk mengembangkan pariwisata di Aceh Singkil, terutama Pulau Banyak.

”Di sisi lain, mengembangkan pulau terpencil seperti Pulau Banyak butuh biaya besar dan waktu yang lama. Sulit rasanya apabila hanya pemerintah daerah yang berupaya tanpa dukungan dari pusat,” kata Reza.

Kelautan dan Perikanan

Luasnya kelautan yang terdapat di Kabupaten Aceh Singkil merupakan salah satu potensi yang ada di daerah ini. Dengan luas laut 2.652,92 kilometer persegi dan produksi ikan tangkap 11.172,03 ton per tahun serta produksi perikanan budidaya 31,14 ton per tahun Kabupaten Aceh Singkil memiliki potensi untuk mengembangkan sektor perikanan.

Namun berbagai permasalahan masih saja menghambat sektor perikanan di daerah ini. Seperti industri perikanan yang masih terbatas dan belum dikelola secara optimal. Padahal letak geografis Aceh Singkil yang berbatasan dengan Samudera Hindia tentu memiliki potensi bahari yang sangat besar untuk dikembangkan.

Di sisi lain pemberdayaan usaha sektor perikanan terkendala dengan kecukupan dana. Seperti industri rumah tangga perebusan ikan di Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil banyak yang gulung tikar.

Iwan warga Sitia Ambia, Singkil, pelaku usaha industri rumah tangga pengolahan ikan rebus terpaksa menutup usahanya. Lantaran tingginya harga bahan baku, tak sebanding lagi dengan penghasilan yang diperoleh. “Alasan pertama mengapa tutup karena bahan baku mahal. Tidak lagi sebanding dengan biaya yang dikeluarkan,” ungkap Iwan.

Ikan maning salah satu bahan baku utama ikan rebus, jika sebelumnya per keranjang isi 30 kilogram diperoleh dengan harga Rp 40.000. Kini naik tiga kali lipat lebih menjadi Rp 150.000 per keranjang. Sementara harga jual ikan rebus tetap pada kisaran Rp 15.000 sampai dengan Rp 16.000 per kilo. Perhitunganya setiap 30 kilogram bahan baku setelah diolah akan menghasilakan ikan rebus sebanyak 12 kilogram, dikalikan dengan harga jual Rp 15.000 maka hasil yang diperoleh hanya Rp 180.000. Penghasilan sebesar itu, belum dipotong biaya transportasi pemasaran dan pengolahan.

Biasanya ikan rebus produksi industri rumah tangga Aceh Singkil, dipasarkan ke Nias, Sumatera Utara, menggunakan kapal feri. Begitu kapal feri naik dok (perbaikan-red) pedagang ikan rebus kewalahan biaya pengiriman yang beralih menggunakan perahu motor. Ongkos naik perahu motor jauh lebih mahal dari kapal feri. “Udah bahan baku mahal, ongkos pemasaran pun ikut mahal begitu feri naik dok,” jelas Iwan.

Persoalan lain dihadapi pengusaha ikan rebus modal yang tipis. Akibatnya warga langsung gulung tikar begitu mengalami kerugian sekali saja. Kemudian manajemen usaha juga belum baik.  “Modal termasuk menjadi kendala. Waktu pertama kali buka ramai bagi jamur dimusim hujan. Tutupnyapun serempak, ini karena manajemen usaha kurang baik, sehingga terjadi persaingan tak sehat. Karenanya kami berharap ada pembinaan dari pemerintah,” pungkas Iwan.

Terkait lemahnya pengetahun warga dalam menjalankan usaha, juga dialami industri kecil dan menengah lainnya di Aceh Singkil. Sudah 13 tahun daerah ini menjadi kabupaten, belum ada satupun industri rumah tangga yang menjadi andalan. Padahal bahan baku yang disediakan alam melimpah ruah.

Pertanian dan Perkebunan

Sebagai wilayah agraris dan maritim Kabupaten Aceh Singkil memiliki beragam potensi. Jika digarap dengan maksimal akan memberikan nilai tambah dan daya saing ekonomi yang tinggi. Berbagai komoditi pertanian dan perkebunan di Singkil dapat berkembang dengan baik karena didukung oleh kondisi geografis dan juga tingkat kesuburan yang tinggi.

Saat ini pada sektor perkebunan misalnya, tercatat ada sekitar 22 perusahaan besar perkebunan, sebagian sudah menanam modalnya dan sebagian lagi masih mengantongi izin prinsip. Komoditas yang dikembangkan adalah kelapa sawit. Hingga kini sedikitnya hampir 200.000 hektar (ha) areal kebun kelapa sawit yang sudah produktif di Aceh Singkil.

Dengan luas luas wilayah 1.857,88 km2 Kabupaten Aceh Singkil berpotensi dalam bidang perkebunan sawit. Maka tak heran jika perkebunan sawit tumbuh subur di daerah ini. Bahkan dalam hal jumlah produksi sawit, Singkil menempati urutan teratas di Provinsi Aceh, yakni 63.681 ton dari 355.366 ton total sawit yang dihasilkan Aceh pada tahun 2013.

Namun, banyaknya perusahaan sawit maupun  produksinya yang tinggi tersebut belum memberi kesejahteraan  signifikan kepada masyarakat Aceh Singkil. Seperti yang dialami petani sawit di Desa Situban Makmur, Kecamatan Danau Paris. Akibat akses jalan yang tidak layak, harga sawit di desa itu anjlok. Sehingga pendistribusian hasil panen pertanian serta perkebunan milik warga menjadi tidak lancar.

Seorang warga, Marwandi mengaku lelah dan bosan melihat kerusakan jalan di desanya. Hal itu berdampak pada membengkaknya biaya transportasi yang harus dikeluarkan  akibat jalan rusak. “Lihat sendiri bagaimana kondisi jalannya. Beginilah nasib petani di sini hendak menjual hasil panen susah sehingga harus dibeli tengkulak dengan harga murah. Alasannya biaya angkutan mahal karena jalannya rusak,” ungkapnya.

Hal serupa juga dialami warga Kecamatan Singkohor dan Kota Baharu, Kabupaten Aceh Singkil. Jembatan penghubung antar wilayah di daerah itu sering rusak akibat banjir, sehingga menyulitkan petani mengangkut hasil panennya untuk dijual ke pabrik kelapa sawit.

Kondisi ini sangat mempengaruhi perekonomian warga setempat yang mayoritas menggantungkan hidup dari kelapa sawit. Apalagi kedua kecamatan tersebut dikenal sebagai penghasil kelapa sawit dengan produksi rata-rata 200 ton per hari.

Persoalan lain yang dihadapi petani sawit Singkil adalah harga brondolan sawit yang tidak stabil dan cenderung menurun. Seperti yang dialami kumak warga Kecamatan Singkil Utara, yang mengaku nyaris tidak mampu membayar biaya operasional panen, karena penjualan brondongan sawit tidak mampu menutupinya.

Pria lanjut usia ini bahkan terancam melepaskan lahan perkebunan sawitnya dikarenakan terlilit utang di bank untuk memenuhi biaya perawatan dan pemupukan. "Kalau harga sawit terjun bebas seperti ini dan tidak segera teratasi, terpaksa harus dilepaslah lahan ini. Soalnya kita juga sudah terlilit utang di bank untuk biaya perawatan. Dan harga sawit terus merosot," ujar petani sawit yang memiliki lahan puluhan hektar ini.

Percepatan Pembangunan

Guna mendorong pembangunan di Kabupaten Aceh Singkil Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) melalui Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal pada tahun 2015 lalu telah mengucurkan bantuan, diantaranya pembangunan jalan, bantuan alat kesehatan dalam rangka meningkatkan kualitas lembaga kesehatan, pembangunan warung internet masyarakat, penyediaan sarana pembelajaran serta pembangunan PLTS.

Dan pada tahun 2016 ini Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal kembali mengelontorkan bantuan berupa pelaksanaan kegiatan hasil produksi daerah, pembangunan jalan, pembangunan pusat belajar masyarakat (PBM) berupa gedung dan mebeler, penyediaan alat peraga pendidikan, pengadaan air bersih komunitas, pembangunan saung terampil untuk masyarakat dan penyediaan kualitas pembelajaran masyarakat melalui penyediaan sarana PBM berupa buku bacaan.

Diharapkan dengan bantuan tersebut dapat mendorong pengembangan potensi ekonomi di Kabupaten Aceh Singkil. Melihat dari sisi potensinya, Aceh Singkil sejatinya mempunyai banyak potensi dari berbagai sektor, diantaranya sektor pertanian, kelautan dan perikanan. Seperti kita ketahui, hasil perkebunan sawit sangat potensial yang juga banyak dijadikan sebagai mata pencahariaan masyarakat setempat. Dari segi kelautan dan perikanan dijadikan sebagai mata pencarian di daerah pesisir.

Selain dari itu, Aceh Singkil mempunyai tempat kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara yaitu Kepulauan Banyak. Pulau Banyak merupakan penghasil pendapatan wisata terbesar di Aceh Singkil. Bagaimana tidak, pulau banyak mempunyai laut yang jernih, karang yang belum rusak, pasir pantai yang putih, pepohonan kelapa yang tersusun rapi di setiap pesisirnya yang menjadikan sebab wisatawan berkunjung ke darah ini.

Pendidikan juga salah satu pilar utama yang harus di optimalkan untuk membebaskan Aceh Singkil dari belenggu ketertinggalan. Dalam Perpres nomor 131 tahun 2015 tentang penetapan indikator daerah tertinggal, salah satu indikatornya adalah sumber daya manusia. untuk meningkatkan SDM di Aceh Singkil tentu harus mengoptimalkan perhatian terhadap pendidikan di daerah ini, baik itu pendidikan formal maupun non formal.

Peningkatan mutu pendidikan juga harus diiringi dengan penguatan kapasitas dan kuantitas tenaga pengajar, peningkatan sarana dan prasarana pendidikan. Disamping itu, pendidikan di Aceh Singkil juga hendaknya dipacu kepada penguatan skill dan teknologi terapan, sehingga output dari pendidikan tersebut dapat dioptimalkan untuk pemberdayaan potensi daerah.

Terkait aksesibilitas selain jalan lintas kabupaten yang harus diperbaiki, tak kalah pentingnya bagaimana jalan-jalan produktif dan jalan perkebunan dapat dioptimalkan, sehingga mempermudah mobilitas hasil produksi perkebunan masyarakat.

Faktor aksesibilitas ini sangat mempengaruhi terhadap stabilitas harga barang yang pada akhirnya akan berdampak pada perekonomian daerah. Begitupula sangat penting dilakukan peningkatan akses informasi kepada masyarakat, sehingga masyarakat dapat terbebas dari isolasi informasi dan meningkatkan pengetahuan dan wawasan masyarakat di daerah ini.

Selain itu karakteristik daerah berupa Alam banjir yang kerap melanda masyarakat Aceh Singkil, bencana ini seakan-akan telah menjadi langganan rutin kabupaten Aceh Singkil tiap tahunnya. Hal itu perlu dilihat apakah faktor pendangkalan sungai sehingga sungai dapat menampung debit air ketika hujan, sistem drainase yang belum memadai.

Secara bertahap dengan penguatan-penguatan di berbagai sektor di atas akan berhubungan dengan Celah Fiskal Aceh Singkil. Ketika stabilitas perekonomian Aceh Singkil maksimal, perputaran uang dimasyarakat banyak pastinya akan meningkatkan pendapatan asli daerah sehingga mempengaruhi secara langsung celah fiskal daerah tersebut.

Permasalahan yang sangat kompleks tersebut tentunya bukanlah hal mudah untuk diatasi.  Hal yang terpenting adalah semua elemen harus siap untuk bersinergi membangun Aceh Singkil secara terintegrasi, baik dari dalam maupun dari luar.