Cerdas Bertani di Daerah Tertinggal dengan Smart Farming 4.0


  Selasa, 19 Maret 2019 Berita DITJENPDT

Pertanian sebagai salah satu sektor penting dalam membangun ketahanan pangan, memerlukan dukungan teknologi untuk memaksimalkan hasilnya. Membaca kebutuhan itu, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, melalui Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PDT) bekerja sama dengan PT. Mitra Sejahtera Membangun Bangsa (MSMB), memperkenalkan Smart Farming 4.0, metode terbaru dalam bidang pertanian. Bertempat di Pendopo Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Smart Farming 4.0 diluncurkan bertepatan dengan Hari Tani Nasional, 24 September 2018. 

Teknologi yang digunakan dalam Smart Farming 4.0 di antaranya Agri Drone Sprayer (Drone penyemprot pestisida dan pupuk cair), Drone Surveillance (Drone untuk pemetaan lahan) serta Soil and Weather Sensor (Sensor tanah dan cuaca).

Samsul Widodo selaku Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Dirjen PDT), mengungkapkan bahwa konsep Smart Farming 4.0 secara sederhana bisa diartikan sebagai precision agriculture atau bertani yang tepat, karena dapat mengidentifikasi keadaan dan kebutuhan dari setiap tanaman. Dari pengidentifikasian tersebut, petani jadi lebih paham tindakan apa yang harus dilakukan pada setiap tanamannya. Tanaman mana yang membutuhkan air, tanaman mana yang harus diberikan pestisida, dan tanaman mana yang harus dipupuk.

Misalnya, Agri Drone Sprayer digunakan untuk menyemprot pestisida dan pupuk cair dengan porsi yang cukup. Pemberian pupuk dan pestisida secara berlebih pun bisa dihindari. Didukung dengan penggunaan Drone Surveillance, pemetaan lahan juga bisa dilakukan. Dari hasil pemetaan, petani bisa mengetahui kondisi tanaman di lahan mereka.

Masih menurut Samsul, penerapan teknologi seperti ini dapat meningkatkan potensi pertanian daerah karena akan turut menarik perhatian kaum muda untuk ikut serta menggeluti pertanian di daerahnya.

“Dengan teknologi seperti ini, agrikultur bisa menjadi agri’cool’ture dan menarik minat anak muda,” ujar Samsul. Minimnya regenarasi petani memang menjadi salah satu penghambat lajunya perkembangan di sektor pertanian. Penggunaan teknologi Smart Farming 4.0 yang disesuaikan dengan zamannya, diharapkan mampu mengatasi masalah perawatan tanaman yang selama ini tidak bisa diselesaikan secara tradisional.

Dalam peluncuran ini pula dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Ditjen PDT, Pemda Kabupaten Situbondo, dan PT. Mitra Sejahtera Membangun Bangsa terkait dengan percontohan penyediaan sensor tanah dan cuaca berbasis internet di bidang pertanian yang terintegrasi dengan Drone Sprayer dan Drone Surveillance dalam rangka meningkatkan produksi pertanian di Kabupaten Situbondo, yang merupakan salah satu daerah tertinggal.

Sebelumnya, ada serangkaian kerja sama yang dilakukan Ditjen PDT dan PT MSMB, di beberapa kabupaten, baik yang termasuk kategori daerah tertinggal maupun bukan. Seperti, Uji coba Agri Drone Sprayer di lahan jagung di Kabupaten Sleman dilakukan 3 September 2018. Dilakukan juga peninjauan penggunaan Soil and Weather Sensor di area persawahan di Kabupaten Wonogiri pada 3 September 2018. Selain itu diadakan juga Pameran Samota Maritime Expo dalam Sail Moyo Tambora 2018 di Kabupaten Sumbawa (9 September 2018).

Sementara, uji coba penggunaan Agri Drone Sprayer dan Soil and Weather Sensor di area persawahan di Kabupaten Sumbawa Timur terjadi pada 10 September 2018. Berikutnya masih bersama dengan PT MSMB, Ditjen PDT mengadakan Pameran Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) di Kabupaten Badung, Bali pada 18-22 Oktober 2018 dan Pameran Indonesia Philanthropy Festival (FIFest) 2018 di Jakarta Convention Center, Jakarta  pada 15-17 November 2018.