Digitalisasi Destinasi Pariwisata di Nusa Tenggara Timur


  Minggu, 26 Mei 2019 Berita DITJENPDT

Daerah Tertinggal sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2014 tentang Percepatan Pembangunan Daerah, merupakan daerah kabupaten yang wilayah serta masyarakatnya kurang berkembang dibandingkan dengan daerah lain dalam skala nasional. Saat ini terdapat 122 daerah tertinggal di Indonesia sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 131 Tahun 2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015-2019. Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019, kebijakan pembangunan daerah tertinggal diarahkan pada peningkatan kegiatan promosi daerah tertinggal, kegiatan yang memenuhi kebutuhan dasar, perbaikan pada pelayanan dasar publik, serta mengembangkan perekonomian masyarakat.

122 daerah tertinggal tersebar di 24 provinsi, salah satunya adalah Nusa Tenggara Timur (NTT). NTT memiliki jumlah kabupaten tertinggal terbanyak kedua setelah Papua, yaitu sejumlah 18 kabupaten dari jumlah total 122 kabupaten daerah tertinggal. Namun, dibalik kondisi tersebut, NTT menjadi salah satu provinsi yang memiliki potensi besar dalam sektor pariwisata. Sesuai dengan data BPS, NTT memiliki 443 destinasi wisata yang dipecah dalam daya tarik pariwisata alam, budaya, minat khusus dan buatan. Sedangkan jika dilihat dari Data Podes 2018, NTT memiliki jumlah 920 objek wisata. Jumlah ini menjadi yang tertinggi dibandingkan provinsi lainnya.

Potensi besar pariwisata di NTT menjadi salah satu jalan dalam upaya mengentaskan ketertinggalan disana. Selama 7 tahun terakhir, wisatawan domestik dan mancanegara yang telah datang di NTT adalah sebanyak 3,6 juta orang. Angka ini diharapkan akan dapat terus naik seiring dengan upaya pembangunan pariwisata yang saat ini tengah dilakukan, salah satunya adalah promosi melalui sistem digital. Hal ini menjadi salah satu upaya percepatan pembangunan pariwisata di daerah tertinggal yang inovatif, mengingat perkembangan digital di Indonesia saat ini menjadi salah satu yang tercepat dan berangsur-angsur masuk dalam semua lini kehidupan. Diketahui, sampai dengan tahun 2017, pengguna Internet di Indonesia mencapai 143,26 juta jiwa dan terus meningkat setiap tahunnya. Tahun 2019 Kementerian Komunikasi dan Informatika menjanjikan bahwa seluruh desa di pelosok Indonesia sudah akan menikmati jaringan internet. Hal ini perlu dimanfaatkan termasuk dalam pengembangan pariwisata di daerah tertinggal.

Rapat Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Timur dilaksanakan pada 23-25 Mei 2019 di Waingapu, Sumba Timur, dan dihadiri oleh seluruh seluruh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten dan Kota se-NTT. Agenda ini menjadi salah satu momentum bersejarah untuk memulai komitmen membangun pariwisata di NTT dengan lebih serius. Dalam agenda tersebut, turut hadir Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal, Samsul Widodo sebagai narasumber yang mengenalkan GOERS sebagai salah satu solusi praktis yang ditawarkan untuk memulai langkah dalam membangun pariwisata di NTT secara digital.

GOERS sendiri merupakan salah satu platform digital pariwisata yang bergerak pada bidang ticketing secara online terkait paket pariwisata, event, film, dan aktivitas lainnya. Disini, GOERS dibantu oleh Caventer Indonesia, yaitu tour operator di Indonesia yang memiliki kegiatan community development atau pendampingan kepada para pelaku pariwisata untuk memahami bagaimana mengembangkan potensi pariwisata yang mereka miliki.

Komitmen pengembangan pariwisata di wilayah NTT dibuktikan dengan ditandatanganinya Nota Kesepahaman antara Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Wayan Darmawa, CEO GOERS, Sammy Ramadhan, dan seluruh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten dan Kota se-NTT, disaksikan oleh Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal, Samsul Widodo terkait kerjasama pengembangan pariwisata secara digital. MoU ini akan menjadi dasar untuk menjalankan kerjasama pengembangan pariwisata berbasis digital di NTT di masa mendatang.

Kerjasama yang akan dibangun oleh Ditjen PDT, GOERS, Dinas Pariwisata di NTT dan dibantu oleh Caventer Indonesia secara bertahap adalah dengan membuatkan paket pariwisata yang akan dipasarkan secara digital serta membangun e-ticketing pada setiap destinasi. Penerapan paket pariwisata secara digital dapat menjadi solusi pemasaran yang memiliki cakupan secara luas dan dapat menarik sebanyak mungkin wisatawan lokal maupun mancanegara ke destinasi-destinasi wisata yang ada di NTT. Sedangkan penerapan e-ticketing dapat menjadi solusi untuk memperbaiki sistem pengelolaan destinasi wisata menjadi lebih baik kedepannya, terutama pada manajemen keuangan ataupun data mining yang selama ini menjadi kelemahan pada sebagian besar destinasi pariwisata di daerah tertinggal.

Keunggulan penerapan sistem e-ticketing adalah adanya data sebaran para wisatawan yang berada di NTT. Contohnya pada skema wisata live a board, pemerintah setempat akan memiliki data jumlah wisatawan yang tengah berada di laut dengan titik kunjungan mereka masing-masing. Hal ini akan sangat membantu jika terdapat masalah kedepannya. Contoh lainnya adalah pada kemudahan para wisatawan perseorangan dan group kecil untuk mengunjungi setiap destinasi yang memerlukan kapal penyeberangan. Dengan adanya sistem e-ticketing mereka dapat dengan mudah memesan tiket penyeberangan dengan harga dan jadwal yang sesuai.