Embung dan Ketahanan Pangan


  Rabu, 17 Januari 2018 Berita DITJENPDT

Pemerintah Pusat melalui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi memiliki program besar untuk ketahanan pangan yang telah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sampai tahun 2019. Dalam program ketahanan pangan tersebut, instrumen yang dibutuhkan yakni terkait pengairan.

Untuk mencapai ketahanan pangan, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi mengarahkan dana desa sebesar Rp 20 triliun dari total sebesar Rp 60 triliun untuk pembangunan embung atau tempat penampungan air. Pembangunan embung tersebut merupakan program prioritas pemerintah tahun 2017.

Berdasarkan data Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, dari total 15.000 desa prioritas pembangunan saat ini, terdapat 7.440 desa yang membutuhkan pembangunan infrastruktur sumber-sumber air.

Embung merupakan bangunan konservasi air berbentuk kolam untuk menampung air hujan dan air limpahan atau air rembesan sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi kekurangan air ketika musim kemarau. Embung akan menyimpan air di musim hujan dan diharapkan bisa dimanfaatkan saat musim kemarau atau saat kekurangan air.

Embung bisa dibangun di daerah dataran tinggi yang tidak dilalui aliran sungai. Perbukitan yang dulu gersang bisa memiliki persediaan air. Perbukitan perdesaan yang biasanya gundul pada musim kemarau sehingga banyak tanaman mati karena kekurangan air, bisa bertahan dengan irigasi dari waduk mini tersebut.

Presiden Joko Widodo menargetkan ada 30.000 embung yang akan dibangun tahun ini dengan luas areal sekitar 4 juta hektar. Pembangunan embung dilakukan untuk memberikan persediaan air yang cukup untuk lahan pertanian saat musim kemarau.

Dari 74.754 desa di Indonesia, sebanyak 82,77 persen diantaranya memiliki sumber penghasilan di bidang pertanian. Namun sebagian besar desa hanya mampu panen 1,4 kali dalam setahun lantaran kekurangan sumber air.

Embung diharapkan mampu menggandakan produksi pangan dari indeks pertanaman 1,4 kali menjadi 2-3 kali dalam satu tahun. Hal ini dikarenakan sistem irigasi bisa tetap mengaliri air ke lahan pertanian meskipun di musim kemarau.

Dengan masa panen hingga bisa 3 kali dalam setahun, produktivitas pertanian akan meningkat. Dengan naiknya kapasitas produksi pertanian diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi desa. Sedangkan jika produksi pangan di dalam negeri melebihi dari yang dibutuhkan juga bisa diekspor ke negara lain.

Pembangunan embung menjadi prioritas pemerintah karena dapat memberikan manfaat yang sangat besar dengan biaya pembangunan yang relatif murah jika dibandingkan dengan pembangunan bendungan.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo memaparkan proses akumulasi kapital melalui pembangunan embung desa. Selain meningkatkan produktivitas pertanian, embung desa juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan di desa, meningkatkan pendapatan masyarakat desa dan meningkatkan konsumsi dan tabungan masyarakat desa. Menteri Eko menilai hal tersebut akan mendorong pertumbuhan ekonomi desa.

Selain bisa meningkatkan kapasitas produksi pertanian, menurut Menteri Eko bonus embung desa bisa dimanfaatkan untuk sektor perikanan hingga pariwisata. Hal ini akan menjadi daya ungkit ekonomi desa.

Sebagai contoh pengembangan embung Boon Pring di Desa Sanakerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang dengan konsep ekowisata. Embung yang memiliki fungsi utama sebagai sumber air bagi masyarakat setempat berhasil memberikan nilai tambah, yakni pengembangan ekowisata yang memberikan manfaat tidak hanya bagi masyarakat desa sekitar, melainkan juga para wisatawan yang berkunjung.

Sejak dikembangkan menggunakan konsep ekowisata, embung Boong Pring pada tahun 2016 lalu bisa menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 130 juta per tahun.

Ketahanan Pangan

Presiden Joko Widodo berkomitmen membangun ketahanan pangan, salah satu upayanya dengan mengarahkan pemanfaatan dana desa untuk meningkatkan produksi pangan.

Untuk terus meningkatkan pembangunan fasilitas produksi pangan di perdesaan tersebut, pemerintah juga berkomitmen dengan meningkatkan alokasi dana desa. Untuk tahun 2018, alokasi dana desa sudah ditetapkan sebesar Rp 120 triliun, naik dari sebelumnya Rp 60 triliun.

Ketahanan pangan semakin mendesak bagi masyarakat, khususnya diwilayah perdesaan. Peran embung terkait ketahanan pangan sangat penting, terutama guna mengurangi faktor gangguan akibat kekeringan. Embung menjadi pilar dalam produksi pangan desa sehingga penduduk desa dekat dengan sumber makanan dan terhindar dari persoalan distribusi. Embung mendorong terciptanya swadaya pangan penduduk desa.

Embung sebagai penampung air juga menopang diversifikasi pertanian. Peningkatan hasil pertanian melalui variasi jenis tanaman seperti pola tumpang sari. Sawah di Jawa bahkan disela-selanya dapat diselingi tanaman untuk ternak. Peningkatan hasil ternak akan menaikkan produksi protein hewani warga desa.

Dalam embung juga dapat disebar ikan untuk usaha perikanan yang diharapkan bisa mencegah kemungkinan perkembangan jentik nyamuk. Sementara, sekitar embung juga bisa dikembangkan kolam-kolam ikan. Diharapkan ikan akan dapat menambah pendapatan masyarakat dan menjadi sumber protein hewani yang murah bagi masyarakat dan terutama bagi balita.

Ketahanan pangan harus diupayakan mulai dari desa. Embung memiliki peran strategis dalam turut menciptakan ketahanan pangan perdesaan. Ini bisa jadi terobosan mengatasi banjir dan kekeringan desa.