Pesona Wisata Mangrove Libsangaj, Keberhasilan Program Inovasi Desa Kemendes PDTT di Kabupaten Sula


  Kamis, 22 Oktober 2020 Berita DITJENPDT

KABUPATEN SULA –Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara tidak pernah membayangkan Wisata Magrove Libsangaj akan menjadi salah satu wisata alam favorit di Kepulauan Maluku Utara. Pesona hutan magrove yang masih asri menjadi kekuatan daya tarik wisatawan yang selalu ramai mengunjunginya. Seluruh pencapaian ini tidak terlepas dari pendampingan bersama melalui Program Inovasi Desa yang diinisiasi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula lewat pendampingan ini, sukses mengembangkan potensi daerah mereka. Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Nono Sampono pada awal tahun 2019 datang ke sana, guna meresmikan area Wisata Mangrove Libsangaj ini.

Sejalan dengan peresmian tersebut, pemerintah daerah bersama seluruh jajaran instansi pemerintah dan masyarakat setempat terus berbenah menata area wisata dan pelayanan bagi para wisatawan. Mereka bahu-membahu mengelola wisata alam ini dalam Badan Usaha Milik Desa (BUMdes)  Manayana, Pemerintah Daerah, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Sula, Pendamping Profesional Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD), serta Tim Pendamping Inovasi Desa Sanana Utara yang selalu melibatkan masyarakat setempat. Hasilnya, area Wisata Mangrove Libsangaj kini sudah menyumbang Pendapatan Asli Desa (PAD) setiap bulannya mencapai tujuh juta rupiah.

Wisata Mangrove Libsangaj persisnya terletak di Desa Pohea. Desa ini masuk dalam wilayah Kecamatan Sanana Utara, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara. Kepulauan Sula merupakan salah satu kabupaten daerah tertinggal yang berada di Provinsi Maluku Utara.  Menurut Kepala Desa Pohea, Rudi Duwila, hutan mangrove ini dikembangkan dengan anggaran dari Dana Desa pada 2018 dan 2019. Dana tersebut kemudian disepakati untuk membangun beberapa fasilitas penunjang wisata, antara lain jembatan titian sepanjang 300 meter, lima unit homestay, delapan unit gazebo, satu unit kantin dan rumah makan, satu unit toilet, berbagai spot foto, dan area parkir, serta akan dibangun pula menara pandang untuk melihat pemandangan alam. Di kawasan wisata ini juga sudah tersedia internet gratis dan seluruh area sudah dipantau dengan CCTV.

Pengelola Wisata Magrove Libsangaj berharap bisa membagikan pengetahuan yang lebih mengenai  pengelolaan mangrove dan bakau. Sejatinya, magrove dan bakau berbeda. Bakau adalah jenis tanaman mangrove yang tumbuh di bagian paling depan yang berhadapan dengan laut, memiliki akar tunjang yang tumbuh menyembul guna memperkokoh cengkeraman pohon, agar tidak rebah. Sedangkan mangrove merupakan semua jenis tanaman yang tumbuh di sekitar garis pantai. Secara umum keberadaan hutan mangrove berfungsi sebagai pencegah banjir, pencegah erosi, penyedia sumber makanan bagi ikan, udang, kepiting, moluska, dan hewan-hewan lainnya, serta tempat rekreasi.  Kedepannya Wisata Mangrove Libsangaj akan dikembangkan menjadi lokasi wisata terpadu yang menggabungkan wisata alam, wisata kuliner, wisata edukasi, dan kawasan konservasi mangrove.